Senin, 2009 Juni 29

Jawa Timur - dolan numpak mobil

Wwahhhhhh....pagi ini karipan semua... kami baru bangun pukul 08.30. Gara-gara kecapekan mengelilingi Madura kemarin. Perut udah mulai kruyuk-kruyuk minta diisi... Maka bergegaslah mandi...bebenah, karena mau check out sekalian...

Setelah naruh barang di mobil. Maka tujuannya adalah Delta Plaza. Jalan kaki aja, karena hotel letaknya persis di sebelah hotel. Ternyata Delta Plaza buka jam 10.00. hehehe....masih harus nunggu sebentar nih.. Akhirnya nggak makan pagi dong...tapi brunch...Setelah berdebat seru, maka diputuskan untuk makan di HOKA HOKA BENTO... maklum warung ini nggak ada di jogja... Dan pilihanku adalah Ekado tanpa nasi. Dari dulu emang ini kegemaranku. Dan Kids memilih Torinobi, sedangkan bojo memilih Sukiyaki... Eki protes...udah mahal nggak kenyang...hehehe... kebiasaan angkringan sihhh nak...
okeeee....perut kenyang saatnya lanjut jalan. Tujuannya lagi-lagi di samping Delta Plaza..jalan dikit, sampailah di MONKASEL. Monumen Kapal Selam....
Woww..... ternyata menakjubkan juga masuk ke kapal selam yang sesungguhnya. Kapal selam Pasopati ini berdiri dengan gagahnya. Yang jelas...tempat itu sangat sempit... aneka alat, torpedo, tempat tidur dll bertumpuk jadi satu di sudut-sudut yang kecil... oalaahhhhh untung aku bukan pelaut...hehehe...bisa mati kaku kalo jadi pelaut...
Setelah puas melihat sana sini, maka segera kembali ke hotel untuk lanjut ke Genteng Besar, beli Bandeng asep. rameeeeee banget... bandeng asep habis bis...jadi harus ke toko lain, agar dapat bandeng asep. Dan yang pasti Krupuk Keju tidak boleh lupa. Perjalanan dilanjutkan. Rugi udah sampai Surabaya nggak mampir mana-mana. Maka setelah browsing internet, pilihannya adalah AIR TERJUN SEDUDO di NGANJUK. lokasi ini sekitar 33 km ke arah selatan Nganjuk. Jalan berkelok-kelok. Sepanjang jalan, bunga mawar memagari jalanan kecil yang sunyi. Bau harum mawar campur lemon grass membuatku serasa di Spa...oiiiiiii asikkkkk banget.
dari kejauhan tampak air terjun yang cukup tinggi. Beberapa pengunjung tampak bercengkerama. Sebagian bahkan menyempatkan mandi di air yang dingin itu... bbbbrrrrrrr....dingin.... Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat di sana. Maka setelah potret sana-sini, saatnya maem indomie rebus. Harus maem, karena jam udah menunjukkan jam 3.30..bisa masuk angin kalo tidak maem.
Nah..sekarang tinggal tancap gas ke Jogja. Enggak tancap gas ding...karena mampir beli BOTHOK TAWON di CARUBAN. Bothok tawon ini, berair, jadi kayak garang asem...dan kriuk-kriuk...ihhh nggak usah mbayangin binatangnya. hehehee
Malem mengiringi perjalanan pulang ke Jogja..Liburan singkat yang menyenangkan. Mimpi dalam nyenyak tidurku malam itu adalah: segera pingin minggu depan, sehingga bisa motret-motret lagi di pinggir laut jawa yang lain.. mmmmhhhhhhh nikmat

Madura....masih membutuhkan sentuhan

Horeee.....saatnya dolan....asik-dan asik banget....
kali ini kami berempat, bermobil ria..pingin melihat suramadu...ahaaa....
ya suramadu yang ramai dibicarain orang itu...
Maka pagi itu begitu bersemangatnya aku, jam 2 menyiapkan sarapan buat bekal nanti di jalan
Setelah semua siap...ini saatnya reng rengreng...
jatah nyopir pertama aku....karena jam 3.30 pagi...maka mobil dapat dikebut sekencang-kencangnya... asikkkk....Seperti biasa..anak2 terkantuk kantuk di belakang... dan kekasih hati juga lier-lier sambil sekali-kali ngomel..awas awas...awas awas...
jam 6 pagi...matahari bersinar lamat-lamat.. Tumpukan jemari di sawah, seperti iglo dan kabut tipis membuat indah pemandangan pagi ini.
Nah saatnya makan pagi... setelah hutan saradan... di tepi danau, yang sebenarnya danau tadah hujan..kami menggelar tikar....hawa enak banget. Maem jadi lahap dengan nasi anget, dan lauknya masakan padang yang praktis....sungguh sarapan pagi yang enak...
Setelah puas maem... maka saatnya melaju kembali.. Suramadu kami datang.. Jam 11.30 kami mulai melihat gerbangnya.. oiiiii megah...Untung jalanan nggak macet sama sekali. Karena katanya hari minggu mulai terjadi antrean.
Emang sih di kiri kanan beberapa kendaraan berhenti...orang orang trek jentrek pada Tho potho di sana...
Atas jasa baik mas pasongsongan..hehe..kami dapet itenerari yang oke banget nih.. Jadinya arah jalan diputer... ke Bangkalan dulu untuk menikmati nasi bebek Sinjay....yummy banget.
sambalnya bukan sambel bawang atau trasi..tapi SAMBAL MANGGA...uiiihhh ngeces aku mengingatnya...
Setelah kenyang jalanlah kami kembali...ke TANJUNG BUMI untuk cari batik.. cuaca panas tidak mengurangi semangat..Di Tanjung Bumi suasana sepi banget. Tidak tampak penjual yang buka outlet atau apa pun...untung ada satu papan petunjuk. Mampirlah disana..Nggak dapet yang OK banget sih...kayaknya lebih bagus pas pada pameran di Solo atau Jogja dulu. tapi tak apalah daripada tidak bawa oleh2. Hehehe..
Jalan lagi...kiri jalan pantai dengan omba kecil-kecil.. Langit biru dan awan putih tampak lebih menawan dibandingkan dengan awan di Jawa. Melihat pantai yang lebih banyak tidak memiliki pasir cukup jauh, kami memutuskan tidak jadi mampir di pantai. karena terbayang panasnya dan tidak begitu indah kelihatannya.
Jalan terus, dan masuk Sumenep. Pinginnya mampir Keraton Sumenep. Tapi berhubung tidak ada petunjuk yang pasti, padahal udah nyoba tanya juga, maka di depan taman kota kami melihat bangunan bagus...wow ini pasti...
Turunlah aku..lho kok ada tulisan jamaah putri dan jamaah putra....woalahhhh ternyata Masjid Agung Sumenep...kukira kraton dulunya heheh...ya udah nggak papa lah.
Jalan terus....hari menjelang senja..penasaran dengan ladang garam. Nah ini lagi....salah impian aku...Kupikir ladang garam itu gunung2 garam yang putiiiiiihhhhh semua...pasti asik... wah semangat banget liat sunset sambil foto...pasti ciamik.. Tahunya bu.... hehehhe kayak empang-empang gitu...wah aku salah...Ya sudahlah sodara-sodara...jalan lagi aja... mau nyari oleh2 di Pamekasan toko Nyaman juga nggak ketemu...hiks hiks...sedddihhhh...
sampai Surabaya, jam 8an....loyo setengah mati...rasanya tua di jalan... maka cepet2 mandi... dan harus balas dendam makan.....hahaha... HANAMASA... itulah pilihan terbaik malam itu... gembul gank beraksi....nyam nyam nyam...
setelah puas....maka kami berjalan kaki menyusuri sungai yang bersih dan penuh lampu...indahnya Surabaya. Kami tidur nyenyak malam itu... Meski Madura belum cukup memuaskan mata...tapi kami tetep hepi kok...menginjakkan kaki di madura yang masih alami...
Sampai besokkkkk ya....

Selasa, 2009 Juni 09

Euforia Emosi Negatif


Rasa hangat nafsu "membunuh" itu menjilat-jilat tubuh Sang Bagawan. Sampai hawa panasnya terasa masuk dan melilit dinding-dinding bisu, meski Sang Bagawan tidak berada di sana. Seluruh gairah terasa tersalurkan pada beberapa orang yang sedang duduk bersemadi, seolah hendak menetapkan sesuatu yang maha penting...

(tiba-tiba aku merasa takut...merasa sangat takut. Takut terjilat api itu...takut tidak mampu menemukan kata hati, takut menjadi tuli, karena dentangnya terlalu kuat, takut menjadi bisu, karena suaraku diredam oleh berbagai ilusi....)

Tekukan muka dan senyum lebar yang muncrat dari Sang Bagawan, seakan menyiratkan kemenangan..Kemenangan yang mungkin dia sendiri tidak mengerti maknanya. Kemenangan yang mungkin suatu saat akan berubah menjadi kekalahan, andai dia tidak juga merubah sebaran emosi negatifnya...

Emosi negatif bagaikan air terjun, yang bergolak, berbuih, dan membutuhkan tempat untuk menyarangkannya... Tempayan bejana kadang tidaklah cukup untuk menampungnya...dan rembesannya akan memberi hawa negatif pula bagi rumput di sampingnya. Kenapa kita mencoba merubahnya menjadi tetesan air? Kadang kita menjadi sumir, dalam membedakan. Ini konsistensi, kebenaran, keangkuhan atau hanya sekedar luapan emosi negatif...Butuh hati yang hening, karena itu menciptakan kebeningan...

Ketika aku membuka Anthony de Mello, dan menemunya...semoga menjadikan aku lebih tenang dan bening:


"Orang tidak ingin membuang rasa iri hati, rasa cemas, rasa marah, dan rasa salah karena emosi-emosi negatif itu memberikan kepada mereka sensasi, perasaan sungguh-sungguh hidup," kata Sang Guru.

Dan beginilah ia memberikan ilustrasi.

Seorang tukang pos mengambil jalan pintas melalui rerumputan dengan naik sepedanya. Sampai di tengah, seekor sapi jantan melihatnya dan mengejarnya. Orang yang malang itu hampir saja kena tanduk.

"Nyaris kena, ya?" kata Sang Guru yang menyaksikan peristiwa itu.

"Ya," kata orang tua itu terengah-engah. "selalu begitulah selama ini."

(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)

Senin, 2009 Juni 08

Solo di waktu tidak malam

Sabtu kemarin...kebetulan ada njagong manten di Solo..
maka melajulah kami bertiga dari Semarang ke Solo.... sekalian jalan-jalan karena udah cukup lama tidak dolan bareng.
Maka perjalanan yang tidak terlalu pagi itu dimulai..
belum lagi berjalan jauh...si Eki udah mulai rewel lapeeerrrrr..... Maka diputuskan untuk mampir ke Banaran Coffee Plantation. Coffee shop ini sebenarnya tersebar di banyak tempat. Tapi yang di daerah Tuntang, memiliki kebun kopi yang lumayan luas.


Bunga Kopi dan beberapa kopi yang berwarna merah tampak semburat di sela-sela daun yang rimbun.

Pesanan datang...apalagi kalo bukan minuman kopi istimewa pake krimer... langsung membuat mata melek di pagi dingin itu. Makanan yang kami pilih untuk sarapan pagi ini adalah, Bebek goreng, dan pecel dengan telor ceplok... mmmmm yummy yummy banget.


Ok.... setelah perut kenyang perjalanan pun dilanjutkan. obrolan ringan kiri kanan, menyeruak di antara deru mesin.
Hari ini kami memilih Lor in sebagai tempat menginap. Bukan apa sih...kebetulan ada manten di sana. dan kebetulan kami mendapat free room. jadi tidak ada salahnya memanjakan diri week end ini. Kamar yang kami tempat sangat nyaman. Menghadap langsung ke kolam ikan... asikkk.

Nah selanjutnya apalagi kalo bukan berenang. Kolam yang biru, dengan air yang tenang, sungguh mengundang...

Puas berenang, saatnya mengeringkan rambut dan bersiap-siap untuk pesta manten...Hmmm pesta manten di taman Lor In sangat menarik. lampu yang berkerlip kecil memberi suasana romantis....

Ok.....lelah njagong manten...saatnya tidur dong....karena pagi besok, aku ingin ceprat-cepret cari yang indah-indah....
Mmmm... suasana taman tropis begitu nyaman buat jalan-jalan. Pohon kelapa di sana-sini, bluluk kecil yang jatuh, rumput manila hijau dan suara gemericik air, memberi ketenangan pagi itu. Bebek-bebek kecil berebut makanan ketika aku melempar nasi ke kolam... aduhhhhh indah sekali..

Dan pagi ini semakin lengkap dengan sepincuk pecel ndeso. Nasi merah, Mlandingan (mlandingan ini mengingatkan ku akan masa kecil...gila aku nakal banget, senengnya menek tembok tetangga untuk ambil mlandingan), bothok, kembang turi, daun sembukan (ini baru pertama kalinya aku maem. Kata ibuku, daun ini bikin kentut..hahaha), dan dilumuri bumbu wijen. Wow.... what a nice week end...

Senin, 2009 Mei 18

antara Dawet dan Candi

Lewat Prambanan, di kiri jalan kalo dari Timur ada tukang dawet...yang luarisss... kayaknya seger nih segelas dawet di siang bolong.. hmmmm paduan gula jawa, santen dan cendolnya sungguh nikmat, sambil menikmati ademnya pohon waru. Membuat semangat jalan-jalan naik lagi.

Nah...selanjutnya adalah Candi Kalasan. Candi Kalasan ini lumayan rimbun... suasana sepi, sangat bikin ngantuk. Bentuk candi yang menjulang, agak berbeda denagn khas candi Hindu... di sana sini ada beberapa patung yang sudah ilang tangannya... eman-eman banget ya.

Kunjungan berikutnya adalah Candi Sari. Candi sari ini ada di sebelah utara jalan. Candinya lebih gendut dan tidak langsing. Candi bercorak Budha ini terletak di desa Bendan. Candi Sari dibangun sekitar abad 8. Candi yang berbentuk bangunan bertingkat ini memanjang seperti persegi panjang. Di dalamnya ada tiga Bilik. Di masing-masing bilik ada Patung Budha yang diapit Bodhisatwa. Konon lantai satu dan dua dulunya dipisahkan oleh papan kayu.. wow..kerennya. Dinding luarnya dipenuhi relisf Bodhisatwa sebanyak 38 buah dan memegang bunga teratai... indah sekali.. sayang candi ini tidak sepopuler Candi Prambanan dan Borobudur.
Candi terakhir yang dikunjungi adalah candi Sambi Sari...kalo ini mah..udah deket dengan bandara Adisucipto. Keunikan Candi Sambi sari adalah letaknya yang di bawah, dan dulunya tertimbun tanah....Rumput hijau yang membentang, memberikan kesejukan tersendiri.

Kayaknya memang butuh promosi pariwisata yang lebih intens agar candi-candi indah tersebut tidak dimakan oleh jaman. mmm.....hari yang menyenangkan... yukkkk cari candi-candi baru lagi...

Sabtu, 2009 Mei 16

Rawa Pening - Gethuk Kethek dan Nasi Tumpang

Jumat pagi...ahaaa....siap-siap numpak motor lagi nih. Udah agak nggak motoran. Jadi pingin ambil rute yang agak lama. Pagi ujan sempet bikin bete juga.. karena takut kalo terangnya siang, pasti foto-fotonya jadi OE deh..


Untung jam 7 udah reda..akhirnya jam 7.30 berangkatlah. Menyusur gunung pati, menyaksikan hamparan sawah, dan kebun-kebun rambutan dan duren yang masih basah. Hawa enak banget pagi ini. Tujuan pertama adalah Rawa Pening. Bingung mau ambil sisi mana yang bagus.

Akhirnya berbeloklah aku di sekitar sungai Tuntang... Asssiikkkk ketemu dermaga kecil yang menjorok. Dari situ, danau yang masih berkabut nampak eksotis sekigus mistis. Membayangkan tiba-tiba BaruKlinthing muncul dalam wujud ular...hmmmm syereeemmm....
Beberapa pencari enceng gondok dan tanah rawa berseliweran dalam diam. Terlihat beban kehidupan yang dijalani dengan senyum. Rawa pening tidaklah lagi elok. Terlalu banyak enceng gondok yang memberi kehidupan petani namun sekaligus merusak rawa pening itu sendiri.


Oke... perjalanan dilanjutkan lagi. belum puas di dermaga pertama, maka aku mencoba menyusur sawah di pinggir rawa. Teratai mini berbunga keriting cantik sekali. Beberapa capung hinggap di ujung-ujung daun... memberi warna yang kontras.
Perjalanan dilanjutkan kembali, menyusuri Salatiga, mau cari Gethuk Kethek. Kenapa kok Gethuk kethek... karena di depan warungnya ada kethek yang hobi makan gethuk...hahhaha. Gethuk ini beda dengan gethuknya magelang. Dia benar2 ketela dideplok, dicampur kelapa dan gula. Harum, manis, dan lembut banget di lidah. Ini salah satu oleh2 khas Salatiga. Sayangnya mudah sayup (apa bahasa Indonesianya sayup ya...). Jadi harus dimakan sesegera mungkin.


Setelah membeli gethuk, tujuan berikutnya adalah Nasi Tumpang di daerah Ampel Boyolali. Perjalanan cukup asik.. tidak terlalu ramai hari ini. Sampai di Ampel Boyolali tepat di kanan jalan ada warung nasi Tumpang Mbok Nah...

hmmmm belum apa-apa udah ngiler duluan. Ada beberapa kombinasi lauk, boleh daging empal, koyor, ayam goreng, dan bahkan cingur.. Pilihan ku jatuh pada campuran koyor dan daging, dengan catatan, nasinya dikit ya Bu... Maka Sayuran diracik. Hanya daun pepaya rebus dan thokolan, diguyur dengan kuah tumpang. Kuah tumpang menjadi lekker karena memakai tempe bosok, santan, cabai. kemudia dilengkapi dengan capjai jowo, alias, tepung digoreng bulat, dan tempe bungkus tepung.. hmmm brunch yang lezat.
Siap lanjut jalan ke beberepa candi di Kalasan...

Rabu, 2009 Mei 13

The Hills - kerlip Semarang

Setelah lama tidak dating dengan my secret admirer (dan mungkin akan lama lagi baru bisa ngedate), maka semalam kami memutuskan menghabiskan malam dengan melihat kerlip kota semarang dari The Hills. The Hills adalah sebuat resto di daerah Bukit Sari Semarang atas.


Memasuki resto yang romantis ini, mata langsung disuguhi dengan patung perempuan sensual yang menawan, kemudian jalan masuk dihiasi dengan bunga Irian yang orange menjuntai dengan beberapa lampu gantung yang sinar redupnya mempesona...

Meja-meja di The Hills berhiaskan lilin dalam gelas mungil. Sebagai pembuka, saya memilih Longhorn 40 cm. sosis sapi yang ditaruh dibilah kayu ini, bisa dicocol dengan saus salsa ataupun mustard.

Pilihan makan kali ini adalah, Grilled Salmon, dengan mash potatoes, Spageti. Mmmm cita rasanya pas di mulut..


sebagai penutup, pilihanku adalah onde-onde kuah gula jawa. Onde-onde yang dalamnya berisi kacang tanah tumbuk halus (bukan kacang ijo), di taburi wijen putih dan hitam (bukan dibalut wijen), dan dituangi sedikit kinca. perpaduan yang enak...
suasana Resto ini cukup nyaman. di suatu sudut, relief patung-patung tertempel, ditimpa cahaya Bar yang kuning..memberikan sensasi tersediri. Meja-meja panjang dengan daun hijau di sekelilingnya, memberi suasana segar.


Dan yang pasti.. kerlip lampu kota semarang tampak jelas berpendar-pendar... hiruk-pikuk Semarang seakan teredam, dan hanya menyisakan keindahan malam Semarang