Wwahhhhhh....pagi ini karipan semua... kami baru bangun pukul 08.30. Gara-gara kecapekan mengelilingi Madura kemarin. Perut udah mulai kruyuk-kruyuk minta diisi... Maka bergegaslah mandi...bebenah, karena mau check out sekalian...
Senin, 2009 Juni 29
Jawa Timur - dolan numpak mobil
Diposkan oleh
ika rahutami
di
21:10
8
komentar
Label: jalan - makan - art
Madura....masih membutuhkan sentuhan
Diposkan oleh
ika rahutami
di
13:38
6
komentar
Label: jalan - makan - art
Selasa, 2009 Juni 09
Euforia Emosi Negatif
Rasa hangat nafsu "membunuh" itu menjilat-jilat tubuh Sang Bagawan. Sampai hawa panasnya terasa masuk dan melilit dinding-dinding bisu, meski Sang Bagawan tidak berada di
(tiba-tiba aku merasa takut...merasa sangat takut. Takut terjilat api itu...takut tidak mampu menemukan kata hati, takut menjadi tuli, karena dentangnya terlalu kuat, takut menjadi bisu, karena suaraku diredam oleh berbagai ilusi....)
Tekukan muka dan senyum lebar yang muncrat dari Sang Bagawan, seakan menyiratkan kemenangan..Kemenangan yang mungkin dia sendiri tidak mengerti maknanya. Kemenangan yang mungkin suatu saat akan berubah menjadi kekalahan, andai dia tidak juga merubah sebaran emosi negatifnya...
Emosi negatif bagaikan air terjun, yang bergolak, berbuih, dan membutuhkan tempat untuk menyarangkannya... Tempayan bejana kadang tidaklah cukup untuk menampungnya...dan rembesannya akan memberi hawa negatif pula bagi rumput di sampingnya. Kenapa kita mencoba merubahnya menjadi tetesan air? Kadang kita menjadi sumir, dalam membedakan. Ini konsistensi, kebenaran, keangkuhan atau hanya sekedar luapan emosi negatif...Butuh hati yang hening, karena itu menciptakan kebeningan...
Ketika aku membuka Anthony de Mello, dan menemunya...semoga menjadikan aku lebih tenang dan bening:
"Orang tidak ingin membuang rasa iri hati, rasa cemas, rasa marah, dan rasa salah karena emosi-emosi negatif itu memberikan kepada mereka sensasi, perasaan sungguh-sungguh hidup," kata Sang Guru.
Dan beginilah ia memberikan ilustrasi.
Seorang tukang pos mengambil jalan pintas melalui rerumputan dengan naik sepedanya. Sampai di tengah, seekor sapi jantan melihatnya dan mengejarnya. Orang yang
"Nyaris kena, ya?" kata Sang Guru yang menyaksikan peristiwa itu.
"Ya," kata orang tua itu terengah-engah. "selalu begitulah selama ini."
(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)
Diposkan oleh
ika rahutami
di
13:13
4
komentar
Label: ragam neka
Senin, 2009 Juni 08
Solo di waktu tidak malam
Sabtu kemarin...kebetulan ada njagong manten di Solo..
maka melajulah kami bertiga dari Semarang ke Solo.... sekalian jalan-jalan karena udah cukup lama tidak dolan bareng.
Maka perjalanan yang tidak terlalu pagi itu dimulai..
belum lagi berjalan jauh...si Eki udah mulai rewel lapeeerrrrr..... Maka diputuskan untuk mampir ke Banaran Coffee Plantation. Coffee shop ini sebenarnya tersebar di banyak tempat. Tapi yang di daerah Tuntang, memiliki kebun kopi yang lumayan luas.
Pesanan datang...apalagi kalo bukan minuman kopi istimewa pake krimer... langsung membuat mata melek di pagi dingin itu. Makanan yang kami pilih untuk sarapan pagi ini adalah, Bebek goreng, dan pecel dengan telor ceplok... mmmmm yummy yummy banget.
Ok.... setelah perut kenyang perjalanan pun dilanjutkan. obrolan ringan kiri kanan, menyeruak di antara deru mesin.
Hari ini kami memilih Lor in sebagai tempat menginap. Bukan apa sih...kebetulan ada manten di sana. dan kebetulan kami mendapat free room. jadi tidak ada salahnya memanjakan diri week end ini. Kamar yang kami tempat sangat nyaman. Menghadap langsung ke kolam ikan... asikkk.
Nah selanjutnya apalagi kalo bukan berenang. Kolam yang biru, dengan air yang tenang, sungguh mengundang...
Puas berenang, saatnya mengeringkan rambut dan bersiap-siap untuk pesta manten...Hmmm pesta manten di taman Lor In sangat menarik. lampu yang berkerlip kecil memberi suasana romantis....
Ok.....lelah njagong manten...saatnya tidur dong....karena pagi besok, aku ingin ceprat-cepret cari yang indah-indah....
Mmmm... suasana taman tropis begitu nyaman buat jalan-jalan. Pohon kelapa di sana-sini, bluluk kecil yang jatuh, rumput manila hijau dan suara gemericik air, memberi ketenangan pagi itu. Bebek-bebek kecil berebut makanan ketika aku melempar nasi ke kolam... aduhhhhh indah sekali..
Dan pagi ini semakin lengkap dengan sepincuk pecel ndeso. Nasi merah, Mlandingan (mlandingan ini mengingatkan ku akan masa kecil...gila aku nakal banget, senengnya menek tembok tetangga untuk ambil mlandingan), bothok, kembang turi, daun sembukan (ini baru pertama kalinya aku maem. Kata ibuku, daun ini bikin kentut..hahaha), dan dilumuri bumbu wijen. Wow.... what a nice week end...
Diposkan oleh
ika rahutami
di
20:15
8
komentar
Label: jalan - makan - art
Senin, 2009 Mei 18
antara Dawet dan Candi
Lewat Prambanan, di kiri jalan kalo dari Timur ada tukang dawet...yang luarisss... kayaknya seger nih segelas dawet di siang bolong.. hmmmm paduan gula jawa, santen dan cendolnya sungguh nikmat, sambil menikmati ademnya pohon waru. Membuat semangat jalan-jalan naik lagi.
Nah...selanjutnya adalah Candi Kalasan. Candi Kalasan ini lumayan rimbun... suasana sepi, sangat bikin ngantuk. Bentuk candi yang menjulang, agak berbeda denagn khas candi Hindu... di sana sini ada beberapa patung yang sudah ilang tangannya... eman-eman banget ya.
Kayaknya memang butuh promosi pariwisata yang lebih intens agar candi-candi indah tersebut tidak dimakan oleh jaman. mmm.....hari yang menyenangkan... yukkkk cari candi-candi baru lagi...
Diposkan oleh
ika rahutami
di
09:32
10
komentar
Label: jalan - makan - art
Sabtu, 2009 Mei 16
Rawa Pening - Gethuk Kethek dan Nasi Tumpang
Jumat pagi...ahaaa....siap-siap numpak motor lagi nih. Udah agak nggak motoran. Jadi pingin ambil rute yang agak lama. Pagi ujan sempet bikin bete juga.. karena takut kalo terangnya siang, pasti foto-fotonya jadi OE deh..
Akhirnya berbeloklah aku di sekitar sungai Tuntang... Asssiikkkk ketemu dermaga kecil yang menjorok. Dari situ, danau yang masih berkabut nampak eksotis sekigus mistis. Membayangkan tiba-tiba BaruKlinthing muncul dalam wujud ular...hmmmm syereeemmm....
Beberapa pencari enceng gondok dan tanah rawa berseliweran dalam diam. Terlihat beban kehidupan yang dijalani dengan senyum. Rawa pening tidaklah lagi elok. Terlalu banyak enceng gondok yang memberi kehidupan petani namun sekaligus merusak rawa pening itu sendiri.
Oke... perjalanan dilanjutkan lagi. belum puas di dermaga pertama, maka aku mencoba menyusur sawah di pinggir rawa. Teratai mini berbunga keriting cantik sekali. Beberapa capung hinggap di ujung-ujung daun... memberi warna yang kontras.
Perjalanan dilanjutkan kembali, menyusuri Salatiga, mau cari Gethuk Kethek. Kenapa kok Gethuk kethek... karena di depan warungnya ada kethek yang hobi makan gethuk...hahhaha. Gethuk ini beda dengan gethuknya magelang. Dia benar2 ketela dideplok, dicampur kelapa dan gula. Harum, manis, dan lembut banget di lidah. Ini salah satu oleh2 khas Salatiga. Sayangnya mudah sayup (apa bahasa Indonesianya sayup ya...). Jadi harus dimakan sesegera mungkin.
Setelah membeli gethuk, tujuan berikutnya adalah Nasi Tumpang di daerah Ampel Boyolali. Perjalanan cukup asik.. tidak terlalu ramai hari ini. Sampai di Ampel Boyolali tepat di kanan jalan ada warung nasi Tumpang Mbok Nah...
hmmmm belum apa-apa udah ngiler duluan. Ada beberapa kombinasi lauk, boleh daging empal, koyor, ayam goreng, dan bahkan cingur.. Pilihan ku jatuh pada campuran koyor dan daging, dengan catatan, nasinya dikit ya Bu... Maka Sayuran diracik. Hanya daun pepaya rebus dan thokolan, diguyur dengan kuah tumpang. Kuah tumpang menjadi lekker karena memakai tempe bosok, santan, cabai. kemudia dilengkapi dengan capjai jowo, alias, tepung digoreng bulat, dan tempe bungkus tepung.. hmmm brunch yang lezat.
Siap lanjut jalan ke beberepa candi di Kalasan...
Diposkan oleh
ika rahutami
di
09:16
9
komentar
Label: jalan - makan - art
Rabu, 2009 Mei 13
The Hills - kerlip Semarang
Setelah lama tidak dating dengan my secret admirer (dan mungkin akan lama lagi baru bisa ngedate), maka semalam kami memutuskan menghabiskan malam dengan melihat kerlip kota semarang dari The Hills. The Hills adalah sebuat resto di daerah Bukit Sari Semarang atas.
Meja-meja di The Hills berhiaskan lilin dalam gelas mungil. Sebagai pembuka, saya memilih Longhorn 40 cm. sosis sapi yang ditaruh dibilah kayu ini, bisa dicocol dengan saus salsa ataupun mustard.
Pilihan makan kali ini adalah, Grilled Salmon, dengan mash potatoes, Spageti. Mmmm cita rasanya pas di mulut..
sebagai penutup, pilihanku adalah onde-onde kuah gula jawa. Onde-onde yang dalamnya berisi kacang tanah tumbuk halus (bukan kacang ijo), di taburi wijen putih dan hitam (bukan dibalut wijen), dan dituangi sedikit kinca. perpaduan yang enak...
suasana Resto ini cukup nyaman. di suatu sudut, relief patung-patung tertempel, ditimpa cahaya Bar yang kuning..memberikan sensasi tersediri. Meja-meja panjang dengan daun hijau di sekelilingnya, memberi suasana segar.
Dan yang pasti.. kerlip lampu kota semarang tampak jelas berpendar-pendar... hiruk-pikuk Semarang seakan teredam, dan hanya menyisakan keindahan malam Semarang
Diposkan oleh
ika rahutami
di
07:43
7
komentar
Label: jalan - makan - art

































































